Pesawat yang aku tumpangi dari Soekarno Hatta mendarat di Bandara Internasional Abu Dhabi untuk transit sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke tanah Eropa, jeda waktu lima jam sampai perjalanan selanjutnya. Aku sangat lelah setelah menempuh perjalanan panjang dari Jakarta. Setelah menghabiskan beberapa menit mengelilingi Bandara Internasional Abu Dhabi yang luas dan megah, aku duduk di dekat tempat pemberangkatan selanjutnya dan jatuh tertidur sampai akhirnya dibangunkan oleh wanita paruh baya yang aku tahu dari paspor yang di Pegangnya bahwa dia adalah orang Indonesia bahwa pesawat menuju Frankfrut, Jerman akan diberangkatkan dalam beberapa menit. Seperti penumpang lainnya, aku mengantri untuk memasuki pesawat, satu persatu penumpang masuk ke dalam pesawat. Tiba-tiba dan seorang petugas imigrasi menghentikanku dan berkata dalam bahasa inggris dengan logat arab yang kental “Hey, perlihatkan paspor dan visa mu” katanya dengan nada ketus. Aku menyerahkan paspor dan visa ku kemudian dia memeriksa visa menggunakan alat pendeteksi visa. Mungkin banyak imigran gelap yang masuk Eropa dari Asia sehingga pemeriksaan diperketat. Entahlah, namun waktu itu aku kurang berkenan dengan caranya meminta paspor kepadaku. Aku memberikan surat tugas dari Kedutaan Besar Indonesia tempat aku akan bekerja, setelah itu petugas ini membiarkan aku masuk, lagi-lagi dengan nada yang ketus.
Pramugari di dalam pesawat memberikan pengumuman bahwa pesawat akan segera tinggal landas dalam bahasa Jerman dan bahasa Inggris. Aku sangat tidak sabar untuk menginjakan tanah Eropa untuk pertama kalinya.
Beberapa jam kemudian, pesawat mendarat di Bandara Frankfrut Jerman. waktu itu tanggal 18 Desember 2012 di tengah tengah musim dingin. Ketika keluar pesawat, aku merasakan suhu dingin yang amat sangat sampai menusuk tulang. Aku belum pernah merasakan suhu dingin seperti ini dalam hidupku. Kami menaiki Bus untuk mencapai terminal keberangkatan selanjutnya.. Setelah bus mengantarkan kami sampai ke dalam terminal, aku sedikit kikuk dengan apa yang harus ku lakukan. Ada beberapa gerebang imigrasi di sana ketika kita memasuki tanah Eropa atau wilayah schengen di mana passpor kita akan dicap. Waktu itu, aku bertanya seorang wanita disebelahku “maaf, saya baru pertama kali ke Eropa, wanita itu sejenak terdiam sambil memperhatikan pasporku dan menjawab dengan bahasa melayu “oh, kamu orang Indonesia?, saya dari Singapore, kemana tujuanmu?” katanya dengan nada yang ramah “Ke Oslo, Norwegia” kataku. “Oh pas lah, aku pun bertolak ke sana”, “ Oh ya!, kalau begitu bolehkah saya ikut denganmu” pintaku. Kami sempat mengobrol sambil menunggu perjalanan selanjutnya dan ternyata dia tinggal di Oslo bersama dengan kekasihnya. Dia memberitahuku tentang kehidupan di Oslo, dan itu membuatku ingin segera sampai.
Pesawat salnjutnya di berangkatkan, perjalanan dari Frankrut ke Oslo hanya memakan waktu sekitar satu setengah jam. Waktu itu sekitar jam 9 pagi namun suasana masih cukup gelap. Setelah mengumpulkan barang bawaan, aku bergegas menuju gerbang kedatangan. Setelah keluar, aku mencari orang yang akan menjemputku dan aku tidak tahu seperti apakah rupa orang tersebut. Di tengah kebingungan.. tiba-tiba seorang pria dengan jenggot putih nan tebal menegurku dari belakang “Orang Indonesia ya!?, Nama kamu Yoza?!” aku berkata “Iya”. Pria yang umurnya hampir sama dengan ayahku ini sangat baik hati, setelah mengobrol dia telah bekerja di kota Oslo di Kedutaan Besar Indonesia selama 30 tahun. Aku di Jemput dengan menggunakan mobil Volvo Silver dengan plat CD. Aku merasa seperti mimpi waktu itu, tak pernah aku bermimpi seumur hidup untuk dapat menginjak tanah Eropa, apalagi untuk tinggal. Di dalam mobil, sangatlah hangat dengan pemanas.. hamparan putih tumpukan salju di luar sangat indah.. Inilah pertama kali aku melihat salju dalam hidupku.. sangat indah dan lembut. Perjalanan berlanjut sampai ke Kota Oslo, dan tempat aku menginap sementara di Wisma Duta Indonesia di Oslo..
Bersambung....
Bersambung....